Kamis, 19 September 2019

BAB II MANFAAT, PERAN, DAN FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA

BAB II

MANFAAT, PERAN, DAN FUNGSI
MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA


A. Manfaat Media Pembelajaran

Sesuai dengan tujuan diberikannya matematika di sekolah, kita dapat melihat bahwa matematika sekolah memegang peranan sangat penting. Anak didik memerlukan matematika untuk memenuhi kebutuhan praktis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan siswa/i dari pembelajaran matematika, diantaranya :

1.      Dapat berhitung,

2.      Dapat menghitung isi dan berat,

3.      Dapat mengumpulkan,

4.      Dapat mengolah data,

5.      Dapat menyajikan data,

6.      Dapat menafsirkan data dan

7.      Dapat menggunakan kalkulator dan komputer.

Selain itu, peran pembelajaran matematika yang lain adalah agar mampu mengikuti pelajaran matematika lebih lanjut, membantu memahami bidang studi lain seperti fisika, kimia, arsitektur, farmasi, geografi, ekonomi, dan sebagainya, dan agar para siswa dapat berpikir logis, kritis, dan praktis, beserta bersikap positif dan berjiwa kreatif.

Sebagai warga negara Indonesia yang berhak mendapatkan pendidikan seperti yang tertuang dalam UUD 1945, tentunya harus memiliki pengetahuan umum minimum. Pengetahuan minimum itu diantaranya adalah matematika. Oleh sebab itu, matematika sekolah sangat berarti baik bagi para siswa yang melanjutkan studi maupun yang tidak.

Bagi mereka yang melanjutkan studi, matematika dapat digunakan dalam berdagang dan berbelanja, dapat berkomunikasi melalui tulisan/gambar seperti membaca grafik dan persentase, dapat membuat catatan-catatan dengan angka, dan



lain-lain. Kalau diperhatikan pada berbagai media massa, seringkali informasi disajikan dalam bentuk persen, tabel, bahkan dalam bentuk diagram. Dengan demikian, agar orang dapat memperoleh informasi yang benar dari apa yang dibacanya itu, mereka harus memiliki pengetahuan mengenai persen, cara membaca tabel, dan juga diagram. Dalam hal inilah matematika memberikan peran pentingnya. Sedangkan bagi mereka yag tidak melanjutnya studi, matematika biasanya digunakan pada penjualan dan perdagangan di pasar tradisional, menghitung Zakat, perhtubgan yang berhubungan dengan ibu hamil, dipake dalam perhitungan bercocok tanam padi, palawija, atau pun mengambil ikan dari laut  agi paera nelayan.

Sejalan dengan kemajuan zaman, tentunya pengetahuan semakin berkembang. Supaya suatu negara bisa lebih maju, maka negara tersebut perlu memiliki manusia-manusia yang hebat dalam bidang teknologi. Untuk keperluan ini tentunya mereka perlu belajar matematika sekolah terlebih dahulu karena matematika memegang peranan yang sangat penting bagi perkembangan teknologi itu sendiri. Tanpa bantuan matematika tidak mungkin terjadi perkembangan teknologi seperti sekarang ini.

Namun demikian, matematika dipelajari bukan untuk keperluan praktis saja, tetapi juga untuk perkembangan matematika itu sendiri. Jika matematika tidak diajarkan di sekolah maka sangat mungkin matematika akan punah. Selain itu, sesuai dengan karakteristiknya yang bersifat hirarkis, untuk mempelajari matematika lebih lanjut harus mempelajari matematika level sebelumnya. Seseorang yang ingin menjadi ilmuawan dalam bidang matematika, maka harus belajar dulu matematika mulai dari yang paling dasar.

Dapat kita simpulkan bahwa matematika sekolah memiliki peranan yang sangat penting baik bagi siswa maupun mahasiswa agar mereka memiliki bekal pengetahuan dan untuk pembentukan sikap serta pola pikirnya, warga negara pada umumnya supaya dapat hidup layak, untuk kemajuan negaranya, dan untuk matematika itu sendiri dalam rangka melestarikan, mengembangkannya juga untuk membuat matematika itu lebih asik dan menyenangkan. Sebagai salah satu bagian dari sistem pengajaran , media pemebelajaran memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting .

Gerlach dan Ely (Ibrahim, 1982 : 7) menyatakan bahwa “ intructional media play a key role in the design and use of sistematic instruction “. (media instruksional memainkan peran penting dalam desain dan penggunaan pengajaran yang sistematis).

Setiap peserta didik akan dapat memperoleh pengetahuan dengan cara memproses pengetahuan yang ditangkap oleh indera nya , baik indera pendengaran , penglihatan maupun indera yang lain, sehingga dalam hal ini media menjalankan perannya sebagai fasilitator peserta didik agar lebih mudah memahami dan mengelola apa yang diterimanya. Pemanfaatan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar secara tepat dapat membantu menjadikan pengalaman belajar lebih jelas. Edgar Dale (Lataheru; 1988: 23) menyebutkan beberapa manfaat media pembelajaran dalam proses belajar mengajar, sebagai berikut:

1.      Perhatian anak terhadap materi tinggi

2.      Anak didik mendapatkan pengalaman kongkret.

3.      Mendorong anak untuk belajar secara mandiri

4.      Hasil yang dipelajari atau diperoleh anak didik sulit dilupakan.

Adapun Penggunaan media komputer dalam proses belajar-mengajar merupakan salah satu alternatif guru untuk menyeragamkan media pengajaran sehingga merangsang siswa dalam berpikir, perhatian, perasaan dan minat siswa untuk memungkinkan terjadinya proses belajar-mengajar yang timbal balik antara guru dan siswa.





B. Peran Media Pembelajaran

Peran media pembelajaran antara lain:

1.      Memperjelas penyajian materi agar tidak hanya bersifat verbal (dalam bentuk kata-kata tertulis atau tulisan)
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, karena menurut para ahli kemampuan daya serap manusia dalam memahami masalah dengan panca indera:
a.       Telinga (pendengaran) 13%
b.      Mata (Penglihatan) 75%
c.       Hidung (penciuman) 3%

3. Menghindari kesalahpahaman terhadap suatu objek dan konsep
4. Menghubungkan yang nyata dengan yang tidak nyata.

Seperti yang telah disebutkan di atas media sangat berperan penting dalam proses pembelajaran khususnya dalam pembelajaran Matematika. Terdapat beberapa alasan pentingnya media dalam pembelajaran matematika, yaitu :

a.    Objek matematika itu abstrak sehingga memerlukan peragaan

Dengan alat pembelajaran matematika, materi matematika yang abstrak disajikan kedalam pendekatan yang lebih konkret, ada visualisasinya, serta manfaat dalam mempelajari materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sementara menurut Murwani (1999), untuk membelajarkan matematika secara benar pada siswa mutlak harus menggunakan alat peraga untuk memudahkan siswa mengenal konsep-konsep matematika.

b.  Sifat materi matematika tidak mudah dipahami

Materi dari matematika bersifat abstrak, hal ini menjadikan materi matematika tidak mudah dipahami oleh kebanyakan siswa. Maka dari itu dengan alat pembelajaran matematika siswa diharuskan berpartisipasi lebih aktif, mereka tidak hanya melihat, mendengar, dan memperhatikan saja, tetapi mereka juga harus melakukan/latihan, sehingga pembelajaran minds on dan hands on bisa tercapai, konsep dibangun oleh siswa sendiri. Contohnya : dalam metode eliminasi, apabila disajikan dalam alat peraga maka tiap langkah yang harus dilakukan tidak dihapal oleh siswa tetapi dipahami, mereka membangun konsep sendiri dan mereka tahu alasan melakukan tiap langkah tersebut.

c.    Hirarki matematika ketat dan kaku.

Dalam matematika terdapat materi prasyarat yang diperlukan untuk dapat menginjak ke materi selanjutnya. Hirarki belajar menurut Gagne harus disusun dari atas ke bawah atau up down (Orton,1987). Dimulai dengan menempatkan kemampuan, pengetahuan, ataupun keterampilan yang menjadi salah satu tujuan dalam proses pembelajaran di puncak dari hirarki belajar tersebut, diikuti kemampuan, keterampilan, atau pengetahuan prasyarat (prerequisite) yang harus mereka kuasai lebih dahulu agar mereka berhasil mempelajari keterampilan atau pengetahuan diatasnya.

Hirarki matematika bersifat ketat dan kaku artinya dalam pemecahan masalah membutuhkan aturan, prinsip dan konsep-konsep terdefinisi sebagai prasyaratnya, yang membutuhkan konsep konkret sebagai prasyarat berikutnya lagi. Jadi diperlukan media agar dapat menuntun untuk terbiasa dalam belajar matematika yang tatanannya bersifat siatematis dan cenderung kaku.

d.  Aplikasi matematika kurang nyata

Dapat dirasakan oleh siswa bahwa aplikasi matematika itu kurang nyata, bahkan siswa hanya menganggap bahwa matematika adalah kumpulan angka dan simbol-simbol. Oleh karena itu diperlukan media agar matematika dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu siswa juga dapat dengan mudah dalam mempelajari konsep-konsep dalam matematika.

e.    Belajar matematika perlu fokus

Matematika memang tidah mudah dipahami, serta hirarkinya yang kaku sehingga membuat siswa menjadi kesulitan dalam mempelajari matematika. Maka dari itu siswa harus fokus ketika guru sedang menerangkan materi matematika, sedangkan kebanyakan guru menggunakan metode ceramah dalam pembelajarannya. Akibatnya siswa menjadi cepat lelah dan bosan dalam belajar matematika, oleh karena itu guru dituntut untuk memiliki kreatifitas dalam pembelajaran matematika. Alat peraga dapat membatu guru untuk menyampaikan ide atau gagasannya dalam pembelajaran matematika agar siswa lebih aktif dan tidak bosan.

f.    Citra pembelajaran matematika kurang baik

Pandangan siswa saat ini terhadap matematika memang kurang baik, mereka berpandangan bahwa pembelajaran matematika itu menakutkan, tegang, bosan dan banyak PR. Hal ini disebabkan karena guru kurang dapat mengkomunikasikan materi matematika yang bersifat kaku tersebut agar dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh siswa. Pembelajaran matematika di sekolah sampai saat ini umumnya dimulai dari penyampaian definisi atau pengertian dari suatu objek secara intuitif, dilanjutkan dengan pengoperasian terhadap objek tersebut, serta diakhiri dengan pemberian contoh kemudian pemberian tugas atau PR yang banyak sebagai latihan.

Dalam pembelajaran matematika yang notabennya banyak siswa yang menganggap bahwa matematika itu sulit, penuh dengan rumus-rumus dan angka-angka, sehingga sebelum kegiatan pembelajaran dimulai siswa sudah menyerah dan merasa tidak akan mampu menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan, hal ini mengakibatkan siswa menjadi tidak dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Maka dari itu alat peraga dapat membantu guru untuk mengubah paradigma yang selama ini berkembang pada masyarakat pada umumnya dan siswa khususnya.

g.  Kemampuan kognitif siswa masih konkret

Pada dasarnya kemampuan kognitif siswa itu konkret, sedangkan materi matematika itu bersifat abstrak. Hal ini akan menjadi hambatan bagi siswa dalam pembelajaran matematika. maka untuk memahami konsep dan prinsip masih diperlukan pengalaman melalui obyek konkret (Soedjadi, 1995:1) Suatu konsep diangkat melalui manipulasi dan observasi terhadap obyek konkret, kemudian dilakukan proses abstraksi dan idealisasi. Jadi dalam proses pembelajaran matematika, peranan media/alat peraga sangat penting untuk pemahaman suatu konsep atau prinsip.








C.  Fungsi Media Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran, media memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dari sumber (guru) menuju penerima (siswa). Sedangkan metode adalah prosedur untuk membantu siswa dalam menerima dan mengolah informasi guna mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam kegiatan interaksi antara siswa dengan lingkungan, fungsi media dapat diketahui berdasarkan adanya kelebihan media dan hambatan yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran. Tiga kelebihan kemampuan media (Gerlach & Ely dalam Ibrahim, et.al., 2001) adalah sebagai berikut. Pertama,



kemapuan fiksatif, artinya dapat menangkap, menyimpan, dan menampilkan kembali suatu obyek atau kejadian. Dengan kemampuan ini, obyek atau kejadian dapat digambar, dipotret, direkam, difilmkan, kemudian dapat disimpan dan pada saat diperlukan dapat ditunjukkan dan diamati kembali seperti kejadian aslinya. Kedua, kemampuan manipulatif, artinya media dapat menampilkan kembali obyek atau kejadian dengan berbagai macam perubahan (manipulasi) sesuai keperluan, misalnya diubah ukurannya, kecepatannya, warnanya, serta dapat pula diulang-ulang penyajiannya. Ketiga, kemampuan distributif, artinya media mampu menjangkau audien yang besar jumlahnya dalam satu kali penyajian secara serempak, misalnya siaran TV atau Radio.

Hambatan-hambatan komunikasi dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut. Pertama, verbalisme, artrinya siswa dapat menyebutkan kata tetapi tidak mengetahui artinya. Hal ini terjadi karena biasanya guru mengajar hanya dengan penjelasan lisan (ceramah), siswa cenderung hanya menirukan apa yang dikatakan guru. Kedua, salah tafsir, artinya dengan istilah atau kata yang sama diartikan berbeda oleh siswa. Hal ini terjadi karena biasanya guru hanya menjelaskan secara lisan dengan tanpa menggunakan media pembelajaran yang lain, misalnya gambar, bagan, model, dan sebagainya. Ketiga, perhatian tidak berpusat, hal ini dapat terjadi karena beberapa hal antara lain, gangguan fisik, ada hal lain yang lebih menarik mempengaruhi perhatian siswa, siswa melamun, cara mengajar guru membosankan, cara menyajikan bahan pelajaran tanpa variasi, kurang adanya pengawasan dan bimbingan guru. Keempat, tidak terjadinya pemahaman, artinya kurang memiliki kebermaknaan logis dan psikologis. Apa yang diamati atau dilihat, dialami secara terpisah. Tidak terjadi proses berpikir yang logis mulai dari kesadaran hingga timbulnya konsep.


D. Fungsi Alat Peraga Matematika

Pada dasarnya peserta didik belajar melalui yang konkrit. Untuk memahami konsep abstrak, anak memerlukan benda-benda konkrit (riil) sebagai perantara. Selanjutnya konsep abstrak yang baru dipahami akan mengendap,



melekat, dan tahan lama bila ia belajar melalui berbuat dan memahami pengertian, bukan hanya melalui mengingat fakta. Dengan demikian alat peraga dalam pembelajaran matematika berfungsi sebagai :

1.      Motivasi dalam proses belajar mengajar, khususnya bagi peserta didik akan dapat timbul minat belajar sehingga tercapainya tujuan belajar
2.      Konsep abstrak matematika tersajikan dalam bentuk konkrit sehingga lebih mudah untuk dipahami dan dimengerti serta dapat ditanamkan pada tingkat yang lebih rendah
3.      Hubungan antara konsep abstrak matematika dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih dapat dipahami dengan jelas
4.      Konsep-konsep abstrak yang disajikan dalam bentuk konkrit yaitu dalam bentuk model matematika yang dapat dipakai sebagai objek penelitian maupun sebagai alat untuk meneliti ide-ide baru dan relasi baru.

Oleh karena itu, fungsi utama dari alat peraga adalah untuk menurunkan keabstrakan dari konsep, agar peserta didik mampu menangkap arti sebenarnya konsep tersebut. Dengan melihat, meraba dan memanipulasi obyek/alat peraga maka peserta didik mempunyai pengalaman-pengalaman dalam kehidupan sehari-hari tentang arti dari suatu konsep.


D.  Peranan Alat Peraga Matematika

Menurut kurikulum (Anonim, 1991: 26), peranan alat peraga matematika disebutkan sebagai berikut :

1.      Alat peraga dapat membuat pendidikan lebih efektif dengan jalan meningkatkan semangat belajar siswa.
2.      Alat peraga memungkinkan lebih sesuai dengan perorangan, dimana para siswa belajar dengan banyak kemungkinan sehingga belajar berlangsung sangat menyenangkan bagi masing-masing individu.
3.      Alat peraga memungkinkan belajar lebih cepat segera bersesuaian antara kelas dan diluar kelas.
4.      Alat peraga memungkinkan mengajar lebih sistematis dan teratur.



Teori lain yang mengatakan bahwa alat peraga dalam pengajaran dapat bermanfaat sebagai berikut : Meletakkan dasar-dasar yang kuat untuk berfikir sehingga mengurangi verbalisme, dapat memperbesar perhatian siswa, meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, sehingga belajar akan lebih mantap (Hamalik, 1997:40).

Setelah melihat peranan alat peraga dalam pengajaran maka pelajaran matematika merupakan pelajaran yang paling membutuhkan alat peraga, karena pada pelajaran ini siswa berangkat dari yang abstrak yang akan diterjemahkan ke sesuatu yang konkret.




Latihan Soal :

1.      Apa yang di maksud dengan peran media pembelajaran matematika ?
2.      Sebutkan beberapa kegiatan yang dapat dilakukan siswa dari pembelajaran matematika ?
3.      Sebutkan beberapa manfaat media pembelajaran matematika dalam proses memgajar menurut Edgar dale ?
4.      Sebutkan peran media pembelajaran matematika ?
5.      Tuliskan bebarapa alasan penting media dalam pembelajaran matematika ?
6.      Jelaskan objek matematika itu abstrak sehingga memerlukan peragaan ?
7.      Sebutkan contoh dari sifat matematika tidak mjdah di pahami ?
8.      Jelaskan pengertian peran media pembelajaran matematika menurut Gerlach dan Ely ?
9.      Jelaskan penggunaan media komputer dalam proses belajar mengajar ?
10.  Apa yang dimaksud aplikasi matematika kurang nyata ?

Senin, 16 September 2019

BAB III PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN SAVI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIK SERTA KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMP

PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN SAVI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIK
 SERTA KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA SMP
                                                                 

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Persyaratan
Menempuh Gelar Magister Pendidikan Matematika




Oleh:
HAERUDIN
Nim. 12102028


PROGRAM STUDI MAGISTER (S2)
PENDIDIKAN MATEMATIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) SILIWANGI BANDUNG
2014


BAB III
DESAIN DAN METODE PENELITIAN

A.  Desain Penelitian
Penelitian ini adalah kuasi eksperimen dimana pengambilan sampel acaknya diabaikan atau subjek tidak dikelompokkan secara acak (Ruseffendi, 2005), tetapi peneliti menerima keadaan subjek apa adanya. Desain ini dipilih dengan mempertimbangankan agar waktu penelitian bisa lebih efektif sesuai dengan jadwal yang sudah ada di sekolah tersebut.
Penelitian ini dilakukan pada dua kelas yang memiliki kemampuan yang sama dengan pendekatan pembelajaran yang berbeda. Pada kelas eksperimen diberikan pembelajaran dengan pendekatan SAVI dan pada kelas kontrol diberikan pembelajaran konvensional. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh gambaran tentang peningkatan kemampuan penalaran dan komunikasi matematik serta kemandirian belajar siswa pada pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan SAVI. Adapun desain kelompok kontrol non-ekivalen subyek tidak dikelompokkan secara acak (Ruseffendi, 2010) adalah sebagai berikut:
   O  X   O
----------------
   O        O
Keterangan:
O  :  pretes = postes (tes kemampuan penalaran matematik dan tes kemampuan komunikasi metematik).
X  :   Pembelajaran matematika dengan meggunakan pendekatan SAVI

B.  Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 41 Bandung. Sedangkan sampel penelitiannya adalah dua kelas pada kelas VIII yaitu kelas VIII-J sebagai kelas eksperimen yang pembelajarannya menggunakan pendekatan SAVI dan kelas VIII-H sebagai kelas kontrol dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Pemilihan sampel berdasarkan pada teknik sampling purposive  (Sugiyono, 2011:68) yaitu berdasarkan kebijakan guru dan kepala SMP negeri 41 Bandung.

C.  Pengembangan Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah dua jenis instrumen yaitu dua perangkat tes kemampuan penalaran dan komunikasi matematik yang digunakan untuk tes awal dan tes akhir serta instrumen non tes berupa skala kemandirian belajar siswa. Namun pada pelaksanaannya, ada instrumen tambahan yaitu berupa skala pendapat siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan SAVI.
Digunakannya soal yang sama untuk tes awal dan tes akhir agar dapat melihat dan mengukur kemampuan penalaran dan komunikasi matematik sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Skala kemandirian belajar dimaksudkan untuk melihat ada atau tidak adanya  perbedaan antara kemandirian belajar siswa yang pembelajarannya mengunakan pendekatan SAVI dan siswa yang menggunakan pembelajarn konvensioal. Sedangkan skala pendapat siswa terhadap pembelajaran matematika yang pembelajaranya menggunakan pendekatan SAVI dimaksudkan untuk melihat sejauh mana sikap siswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan SAVI.
Tipe tes yang digunakan  adalah tes tipe uraian agar siswa mudah mengungkapkan kemampuan penalaran dan komunikasi matematiknya. Melalui tes uraian, diharapkan langkah-langkah penyelesaian yang dilakukan dan ketelitian siswa dalam menjawab dapat teramati, seperti yang diungkapkan oleh Ruseffendi (2005) menyatakan bahwa keunggulan tes tipe uraian dibandingkan dengan tes tipe objektif ialah akan timbul sifat kreatif pada diri siswa dan hanya siswa yang telah  menguasai  materi  betul-betul  yang bisa  memberikan jawaban yang baik dan benar. Dengan demikian kemampuan penalaran dan komunikasi matematik siswa dapat diungkapkan dan diuraikan melalui tulisan.
            Instrumen tes kemampuan penalaran dan komunikasi matematik yang digunakan masing-masing terdiri dari 5 butir soal yang berbentuk uraian. Langkah-langkah dalam penyusunan tes ini dimulai dari menyusun kisi-kisi soal kemudian menyusun soal yang sesuai disertai jawaban dari masing-masing butir soal. Kemudian dikonsultasikan kepada yang ahli dalam hal ini Dosen Pembimbing  agar penelitian ini validitas isinya tepat dan memiliki kesesuaian soal dengan tujuan yang akan diukur berdasarkan kisi-kisi soal yang dibuat.
            Validitas muka dari instrumen ini diestimasi oleh guru matematika kelas VIII yang ada di SMP Negeri Bandung tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk melihat kecocokan instrumen tes dengan antara soal dengan  materi pelajaran yang dipilih. Kemudian, soal diujicobakan untuk melihat reliabilitas, validitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran soal. Hal ini sejalan dengan Sugiyono (Riduwan, 2010) bahwa setelah pengujian konstruk selesai dari para ahli, maka diteruskan uji coba instrumen pada sampel dimana populasi itu diambil. Setelah data didapat dan ditabulasikan, maka pengujian validitas konstruksi dilakukan dengan analisis faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antara skor item instrumen.
Sumarmo (2013) menyatakan suatu alat ukur dinamakan memiliki validitas konten atau validitas isi bila alat ukur tersebut memiliki kesesuaian antara butir-butir alat ukur dengan indikator pencapaian tujuan yang ditetapkan. Ruseffendi (2005) mengatakan, “Suatu instrumen dikatakan valid bila instrumen itu, untuk maksud dan kelompok tertentu mengukur yang semestinya diukur; derajat ketepatan mengukurnya benar; validitasnya tinggi”.

Berdasarkan penjelasan dari para ahli tersebut, ketepatan suatu instrumen sangat diperlukan agar penelitian benar-benar tepat mengukur yang semestinya diukur, untuk itu sangat diperlukan sekali adanya kesesuaian antara butir-butir alat ukur dengan indikator pencapaian tujuan yang ditetapkan.

C.1 Tes Kemampuan Penalaran Matematik
Pada tes kemampuan penalaran matematik, sistem penskoran instrumen penalaran matematik digunakan dengan  mengadopsi  Pedoman  Pemberian skor
pada tes bentuk uraian menurut Sumarmo (2011) yaitu:

Tabel 3.1
Panduan Penskoran Tes Kemampuan Penalaran Matematik

Reaksi terhadap Soal atau Masalah
Skor
·     Tidak mengemukakan jawaban.
·   Menulis apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dari soal penalaran  yang diberikan.
·   Memberikan jawaban tetapi mengarah pada jawaban penalaran yang salah.
·   Memberikan jawaban penalaran yang benar tetapi tanpa disertai langkah-langkah pengerjaan.
·   Memberikan jawaban yang relevan dengan masalah penalaran yang diharapkan tetapi jawaban salah atau langkah-langkah pengerjaan kurang lengkap.
·   Memberikan jawaban yang relevan dengan masalah penalaran yang diharapkan, langkah-langkah pengerjaan lengkap, dan jawaban benar.
0
1

2

3

4



5


C.2 Instrumen Tes Kemampuan Komunikasi Matematik
Pada tes kemampuan komunikasi matematik, sistem penskoran instrumen komunikasi matematik digunakan juga dengan mengadopsi  Pedoman Pemberian skor pada tes bentuk uraian menurut Sumarmo (2011) yaitu:





Tabel 3.2
Panduan Penskoran Tes Kemampuan Komunikasi Matematik

Reaksi terhadap Soal atau Masalah
Skor

·   Tidak mengemukakan jawaban.
·   Menulis apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dari soal komunikasi matematik  yang diberikan.
·   Memberikan jawaban tetapi mengarah pada jawaban komunikasi matematik yang salah.
·   Memberikan jawaban komunikasi matematik yang benar tetapi tanpa disertai langkah-langkah pengerjaan.
·   Memberikan jawaban yang relevan dengan masalah komunikasi matematik yang diharapkan tetapi jawaban salah atau langkah-langkah pengerjaan kurang lengkap.
·   Memberikan jawaban yang relevan dengan masalah komunikasi matematik yang diharapkan, langkah-langkah pengerjaan lengkap, dan jawaban benar.

0
1

2

3

4



5

D. Analisis Reliabilitas
Reliabel berarti dapat dipercaya atau diandalkan. Pengujian reliabilitas untuk mengetahui ketetapan suatu instrumen dan menunjukkan bahwa suatu instrumen tersebut dapat dipercaya atau diandalkan. Arikunto (2010), menyatakan reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipecaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Bila instrumennya dapat dipercaya dan yang reliabel maka akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga.
Koefisien  reliabilitas    menyatakan   derajat  reliabilitas  alat evaluasi, dinotasikan dengan . Rumus yang digunakan untuk mencari koefisien reliabilitas bentuk uraian dikenal dengan rumus Alpha (Suherman dan Kusumah, 1990)  yaitu sebagai berikut:
 
    Keterangan:        = koefisien reliabilitas
           = banyak butir soal (item)
 = jumlah varians skor tiap butir ke-i
 = varians skor total
Untuk menentukan tingkat atau derajat reliabilitas soal digunakan kriteria menurut Guilfod (Ruseffendi, 2005) sebagai berikut:
Tabel 3.3
Klasifikasi Koefisien Reliabilitas

Koefisien Reliabilitas (r11)
Kriteria
0,90    1,00
Sangat Tinggi
0,70  0,90
Tinggi
0,40  0,70
Sedang
0,20    0,400
Rendah
0,00  0,20
Kecil

Berdasarkan perhitungan reliabilitas instrumen, diperoleh tingkat reliabilitas untuk perangkat tes kemampuan penalaran dan komunikasi matematik, kedua-duanya tergolong tinggi. Lebih jelasnya data tingkat reliabilitas instrumen dapat di lihat pada tabel 3. 4 berikut:
Tabel 3.4
Hasil Analisis Reliabilitas Soal Tes

No.
Jenis Soal
Tes Kemampuan
Nilai r
Tingkat Reliabilitas
1
Penalaran Matematik
0,75
Tinggi
2
Komunikasi Matematik
0,70
Tinggi

Dari tabel di atas, masing-masing tes perangkat kemampuan penalaran dan komunikasi matemati tingkat reliabilitasnya tergolong tinggi.

E.  Analisis Validitas
Untuk mengukur validitas butir soal digunakan rumus korelasi product moment dari Pearson (Suherman dan Kusumah, 1990) yaitu:
 
Keterangan:           = koefisien korelasi antara variabel  dan variabel
    = banyak sampel
    = skor item
Y   = skor total

Tolak ukur untuk mengetahui tingkat validitas digunakan kriteria berikut menurut Guilford (Suherman dan Kusumah, 1990) sebagai berikut:
Tabel 3.5
Koefisien Validitas Tes

Validitas
Kriteria
sangat tinggi
Tinggi
Sedang
Rendah
sangat rendah
tidak valid
  
Dari hasil uji coba instrumen kemampuan penalaran dan komunikasi matematik, didapat nilai validitas setiap butir soal yang disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 3.6
Validitas Hasil Uji Coba
Instrumen Tes Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematik

No.
Kemampuan
Penalaran Matematik
Komunikasi Matematik
Koefisien Validitas
Kategori
Koefisien Validitas
Kategori
1
0,53
Tinggi
0,41
Sedang
2
0,99
Sangat Tinggi
0,83
Sangat Tinggi
3
0,57
Sedang
0,60
Sedang
4
0,85
Sangat Tinggi
0,67
Tinggi
5
0,74
Tinggi
0,50
Sedang
6
0,30
Rendah




Berdasarkan tabel 3.6, untuk  kemampuan penalaran  matematik soal nomor soal 2 dan 4 memperoleh kriteria validitas sangat tinggi, nomor 1 dan 5 memperoleh kriteria validias tinggi, dan nomor 3 kriteria validias sedang sehingga untuk nomor 1 sampai 5 tersebut dapat digunakan sebagai instrumen penelitian. Sedangkan pada nomor 6 memperoleh kriteria validitas rendah sehingga untuk soal nomor 6 ini tidak dipakai sebagai instrumen penelitian.
Sedangkan untuk kemampuan komunikasi matematik soal  nomor 2 memperoleh kriteria validitas sangat tinggi, nomor 4 memperoleh kriteria validias tinggi, dan nomor 1, 3, dan 5 memperoleh kriteria validias sedang sehingga semua soal tersebut dapat digunakan sebagai instrumen penelitian.
Selain dengan cara di atas untuk mengetahui valid dan tidaknya tiap butir soal dilakukan dengan Uji-t (Riduwan, 2010) yaitu dengan rumus:
 t hitung =    ,
Dengan:
t = Nilai  t hitung
r = Koefisien korelasi hasil  r hitung
n = Jumlah responden

Adapun hasil analisis  validitas tiap butir soal dengan SPSS 21 for windows dapat dilihat pada tabel 3.7  berikut:


Tabel 3. 7
Validitas Hasil Uji Coba
Instrumen Tes Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematik
Dengan Uji-t

No.
Kemampuan
Penalaran Matematik
Komunikasi Matematik
t hitung
 t tabel
Kategori
t hitung
 t tabel
Kategori
1
3,59
2,048
Valid
2,58
2,045
Valid
2
40,31
2,048
Valid
8,55
2,045
Valid
3
3,99
2,048
Valid
4,31
2,045
Valid
4
9,27
2,048
Valid
5,18
2,045
Valid
5
6,32
2,048
Valid
3,31
2,045
Valid
6
1,81
2,048
Tidak valid




Berdasarkan tabel 3.7 di atas, thitung  kemampuan penalaran matematik untuk soal nomor 1 sampai dengan 5 memperoleh kategori valid sedangkan untuk soal nomor 6 memperoleh kriteria tidak valid karena nilai t hitung >  t tabel. Sedangkan thitung  kemampuan komunikasi matematik untuk soal nomor 1 sampai dengan 5 memperoleh kategori valid karena nilai t hitung >  t tabel.

F. Daya Pembeda
Rumus untuk menentukan daya pembeda adalah:
Keterangan:        = rata-rata jawaban benar dari kelompok atas
 = rata-rata jawaban benar dari kelompok bawah
 = Skor Maksimum Ideal
Untuk menentukan kriteria daya pembeda tiap butir soal, digunakan klasifikasi interpretasi (Suherman dan Kusumah, 1990) sebagai berikut:
Tabel 3.8
Klasifikasi Daya Pembeda

DAYA PEMBEDA
KRITERIA
Jelek
Cukup
Baik
Sangat Baik

Dari hasil uji coba instrumen kemampuan penalaran dan komunikasi matematik, didapat nilai daya pembeda  setiap butir soal yang masing-masing disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 3.9
Klasifikasi Daya Pembeda
Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematik

No.
Kemampuan
Penalaran Matematik
Komunikasi Matematik
Daya Pembeda
Kategori
Daya Pembeda
Kategori
1
0,44
Baik
0,30
Cukup
2
0,63
Baik
0,34
Cukup
3
0,4
Baik
0,50
Baik
4
0,4
Baik
0,30
Cukup
5
0,6
Baik
0,63
Baik
6
0,2
Jelek





Bedasarkan tabel 3.9, soal kemampuan penalaran matematik nomor 1 sampai 5 memperoleh kriteria daya pembeda baik sehingga dapat digunakan sebagai instrumen tes. sedangkan untuk nomor 6 memperoleh kriteria daya pembeda jelek sehingga untuk soal kemampuan penalaran matematik pada omor 6 ini tidak dipakai sebagai instrumen tes. Pada soal kemampuan komnikasi matematik nomor 1 sampai 5 memperoleh kriteria daya pembeda baik sehingga dapat dipakai sebagai instrumen tes.

G. Uji Indeks Kesukaran
Tingkat kesukaran menunjukkan apakah butir soal tergolong sukar, sedang, atau mudah. Sumarmo (2013) mengatakan bahwa indeks kesukaran suatu butir tes melukiskan derajat proporsi untuk jumlah jawaban skor benar pada butir tes yang bersangkutan terhadap jumlah skor idealnya.
Untuk menentukan tingkat kesukaran butir soal digunakan  rumus:
Dengan:          = rata-rata jawaban benar 
                   = Skor Maksimum Ideal
Untuk menentukan tingkat atau indeks kesukaran soal, digunakan klasifikasi interpretasi (Suherman dan Kusumah 1990) sebagai berikut:

Tabel 3.10
Klasifikasi Indeks Kesukaran Soal

INDEKS KESUKARAN
KRITERIA
Sangat Sukar
Sukar
Sedang
Mudah
Sangat Mudah

Dari hasil uji coba instrumen kemampuan penalaran dan komunikasi matematik, didapat nilai indek kesukaran  setiap butir soal yang disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 3.11
Klasifikasi Indeks Kesukaran
Soal Kemampuan Penalaran dan Komunikasi Matematik

No.
Kemampuan
Penalaran Matematik
Komunikasi Matematik
Indeks Kesukaran
Kategori
Indeks Kesukaran
Kategori
1
0,53
Sedang
0,42
Sedang
2
0,41
Sedang
0,42
Sedang
3
0,62
Sedang
0,55
Sedang
4
0,45
Sedang
0,35
Sukar
5
0,37
Sukar
0,57
Sedang
6
0,53
Sedang



Berdasarkan klasifikasi indeks kesukaran pada Tabel 3.11 di atas diperoleh bahwa soal kemampuan penalaran matematik nomor 1, 2, 3, 4, dan 6  tergolong soal yang sedang dan soal nomor 5 tergolong sukar. Dari keenam soal kemudian dipilih 5 soal yang untuk dijadikan soal tes awal dan tes akhir kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yaitu soal nomor 1, 2, 3, 4, dan 5.
Sedangkan untuk soal kemampuan komunikasi matematik nomor 1, 2, 3, dan 5 tergolong sedang dan soal nomor 4 tergolong sukar. Kelima soal ini dipakai semua untuk tes tes awal dan tes akhir kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Berdasarkan uraian di atas, berikut disajikan rangkuman hasil uji coba analisis instrumen tes pada tabel berikut:
Tabel 3.12
Kesimpulan Hasil Analisis Uji Coba Tes
Kemampuan Penalaran dan Komunikasi matematik

Jeis Tes
No.
Soal
Reliabilitas
Validitas
Daya
Pembeda
Indeks Kesukaran
Keterangan
r11
Inter-pretasi
rxy
Inter-
Pretasi
DP
Inter-
pretsi
IK
Inter-
pretasi
Kemampuan
Penalaran
Matematik
1
0,75
Tinggi
0,53
Tinggi
0,44
Baik
0,53
Sedang
Dipakai
2
0,99
Sangat tinggi
0,63
Baik
0,41
Sedang
Dipakai
3
0,57
Sedang
0,40
Baik
0,62
Sedang
Dipakai
4
0,85
Sangat tinggi
0,40
Baik
0,45
Sedang
Dipakai
5
0,74
Tinggi
0,63
Baik
0,37
Sukar
Dipakai
6
0,30
Rendah
0,20
Jelek
0,53
Sedang
Tidak dipakai
Kemampuan
Komunikasi
Matematik
1
0,70
Tinggi
0,41
Sedang
0,30
Cukup
0,42
Sedang
Dipakai
2
0,83
Sangat tinggi
0,34
Cukup
0,42
Sedang
Dipakai
3
0,60
Sedang
0,50
Baik
0,55
Sedang
Dipakai
4
0,67
Tinggi
0,30
Cukup
0,35
Sukar
Dipakai
5
0,50
Sedang
0,63
Baik
057
Sedang
Dipakai


H.  Kemandirian Belajar Siswa
Skala kemandirian belajar siswa dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kemandirian belajar siswa dalam belajar matematika. Skala ini memuat sembilan komponen kemandirian belajar yaitu (1) inisiatif belajar, (2) mendiagnosa kebutuhan belajar, (3) menetapkan target / tujuan belajar, (4) memandang kesulitan sebagai tantangan, (5) memanfaatkan dan mencari sumber yang relevan, (6) memilih dan menetapkan strategi belajar, (7) mengevaluasi proses dan hasil belajar, dan (9) self eficacy (konsep diri).
Skala  kemandirian belajar siswa terdiri dari 30 item pernyataan yang dilengkapi dengan jawaban: sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan  sangat tidak setuju (STS). Bentuk skala yang digunakan adalah skala Likert. Untuk pernyataan yang bersifat positif pemberian skornya adalah SS diberi skor 4, S diberi skor 3, TS diberi skor 2, dan STS diberi skor 1. Sedangkan untuk pernyataan yang bersifat negatif pemberian skornya adalah SS diberi skor 1, S diberi skor 2, TS diberi skor 3, dan STS diberi skor 4. Sedangkan untuk netral berda pada skor 2,5.
Kemudian instrumen ini diujicobakan untuk memperoleh gambaran apakah pernyataan yang terdapat pada skala kemandirian belajar siswa dapat dipahami siswa sekaligus dicari reliabilitas dan validitasya.
Analisis reliabilitas korelasi Guttman Split-Half Coefficient = 0,854 (Riduwan, Rusyana, Enas: 2011) bahwa korelasi berada pada kategori sangat kuat. Hal ini karena rhitung (0,85) lebih besar dari  rtabel (0,361). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Skala Kemandirian Belajar Siswa tersebut reliabel. Kemudian akan diuji tingkat validitas dari item-item tersebut dengan perhitungan statistik.
Adapun perhitungan pengujian reliabilitas korelasi Guttman Split-Half Coefficient dapat dilihat pada Tabel 3.13 berikut ini:

Tabel 3.13
Analisis Reliabilitas Skor Skala Kemandirian Belajar Siswa

Analisis
rhitung
Rtabel
Guttman Split-Half Coeficien
0,854
0,361

Analisis uji coba Validitas skala kemandirian belajar siswa berdasarkan perhitungan dengan menggunakan SPSS for windows sebagai berikut:
Tabel 3.14
Analisis Validitas Uji Coba Skala Kemandirian Belajar Siswa

Corrected Item-Total Correlation

Corrected Item-Total Correlation
skor_item_1
,542
skor_item_16
,416
skor_item_2
,576
skor_item_17
,686
skor_item_3
,442
skor_item_18
,310
skor_item_4
,408
skor_item_19
,463
skor_item_5
,668
skor_item_20
,505
skor_item_6
,575
skor_item_21
,127
skor_item_7
,585
skor_item_22
,535
skor_item_8
,375
skor_item_23
,611
skor_item_9
,598
skor_item_24
,633
skor_item_10
,592
skor_item_25
,375
skor_item_11
,677
skor_item_26
,356
skor_item_12
,674
skor_item_27
,614
skor_item_13
,717
skor_item_28
,634
skor_item_14
,478
skor_item_29
,366

 Berdasarkan Tabel 3.14, untuk mengetahui tingkat validitas skor kemandirian belajar siswa perhatikan angka pada Cerrected Item-Total Correlation (Riduwan, Rusyana, Enas: 2011) yang merupakan korelasi antara skor item dengan skor total item atau dengan membandingkan nilai rhitung dngan nilai rtabel. Jika nilai rhitung lebih besar dari rtabel maka item tersebut valid dengan menggunakan distribusi reliabilitas (Tabel r) untuk  =0,05 dengan derajat kebebabasan (dk = n - 2 = 30- 2 = 28) sehingga didapat rtabel = 0,361. Ternyata soal nomor 18 dan 21 bila dilihat dari angka pada kolom Cerrected Item-Total Correlation ternyata nilai masing-masing rhitung  kurang dari  rtabel sehingga kedua soal tersebut tidak valid. Untuk selanjutnya soal nomor 18 dan 21 tidak dipakai lagi.

I. Skala Pendapat Siswa terhadap Pembelajaran SAVI
Skalapendapat ini bertujuan untuk mengetahui dan menelaah pendapat siswa terhadap pembelajaran SAVI, Bahan Ajar yaitu berupa Lembar Kerja Siswa (LKS), dan kompetesi strategis matemtaik lainnya. Skala pendapat ini hanya diberikan pada siswa yang pembelajarannya menggunakan pendekatan SAVI.
Skala  pendapata siswa terhadap pembelajaran matematika dengan pendekatan SAVI terdiri dari 25 item pernyataan yang dilengkapi dengan jawaban: sangat setuju (SS), setuju (S), Netral (N), tidak setuju (TS), dan  sangat tidak setuju (STS). Untuk pernyataan yang bersifat positif pemberian skornya adalah SS diberi skor 5, S diberi skor 4, N diberi skor 3, TS diberi skor 2, dan STS diberi skor 1. Sedangkan untuk pernyataan yang bersifat negatif pemberian skornya adalah SS diberi skor 1, S diberi skor 2, N diberi skor 3, TS diberi skor 4, dan STS diberi skor 5.

J. Prosedur Penelitian
 Sebelum dilakukan penelitian, diadakan terebih dahulu persiapan-persiapan yang dianggap perlu, antara lain: melakukan studi kepustakaan, melakukan survey ke sekolah yang akan digunakan sebagai tempat penelitian dan mencoba melakukan pembelajaran matematika selama dua pertemuan di semester pertama pada kelas VIII selain kelas yang dijadikan sampel penelitian, menyusun proposal penelitian, menyusun instrumen penelitian, dan menyusun rancangan pembelajaran pendekatan SAVI.
Langkah kerja selanjutnya adalah memberikan tes awal terhadap kedua kelompok tersebut. Tujuannya adalah untuk mengetahui kemampuan awal kedua kelompok mengenai kemampuan penalaran dan komunikasi matematik.
Sebelum dilakukan pembelajaran matematika dengan meggunakan pendekatan SAVI dilakukan terlebih dahulu sosialisasi yaitu dengan memberikan penjelasan mengenai aturan-aturan yang akan diterapkan dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan SAVI.
Langkah terakhir memberikan tes akhir (posttest) pada kedua kelompok dan   hasilnya  akan dianalisis  secara lebih singkat prosedur penelitian ini terdiri
dari tiga tahapan yaitu:
1.        Tahapan Persiapan
  Langkah-langkah akan dilakukan pada tahapan persiapan ini adalah:
a.         Identifikasi permasalahan.
b.        Membuat proposal penelitian.
c.         Mengadakan seminar proposal penelitian.
d.        Melakukan perizinan tempat untuk penelitian.
e.         Membuat instrument penelitian.
f.         Membuat RPP.
g.        Melakukan   uji  coba   instrument   penelitian.  Uji  coba   ini   dilakukan
terhadap subyek lain di luar subyek penelitian.
h.        Melakukan analisis atau kriteria instrument kemampuan penalaran dan komunikasi matematik.
2.        Tahap Pelaksanaan
Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam tahap ini adalah:
a.         Memberikan tes awal pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen.
b.        Melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas kontrol menggunakan dengan cara biasa (konvensinal) dan di kelas eksprerimen dengan menggunakan pendekatan SAVI.
c.         Memberikan tes akhir pada kedua kelas tersebut.
d.        Memberikan angket tes kemandirian belajar.
3.        Tahap Akhir
Pada tahap ini akan dilakukan pengkajian dan analisis terhadap penemuan-penemuan penelitian serta melihat peningkatan kemampuan penalaran dan komunikasi matematik serta kemandirian belajar siswa yang akan diukur. Selanjutnya dibuat kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh dan menyusun laporan penelitian.
K.  Teknik Pengolahan Data
Data yang diperoleh dari hasil pretes dan postes  dianalisis untuk menguji hipotesis yang diajukan dan diolah dengan menggunakan  SPSS 21.0 for Windows
dengan langkah sebagi berikut:
1.      Menghitung rata-rata, varians, dan simpangan baku data hasil tes awal dari
kelas eksperimen dan kelas kontrol.
2.      Melakukan uji  normalitas   dari data  hasil  pretes kelas SAVI, kelas kontrol dan  Gain dengan  uji  Shapiro Wilk dengan taraf signifikansi 5%.
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data sampel dari kedua kelompok normal atau tidak. Bila data  sampel tidak normal maka dilakukan uji Mann-Whitney.
3.      Melakukan pengetesan homogenitas dengan uji F (Uji ANOVA).  Uji homogenitas untuk mengetahui apakah varian populasi data adalah sama atau tidak.
4.      Menguji perbedaan 2 rata-rata dengan uji t  2 sampel bebas (Independent Sampel  T Test) pada data pretes dan Gain. Uji perbedaan 2 rata-rata dimaksudkan untuk menguji apakah   ada   perbedaan   antara  kelompok   kontrol  dengan kelompok eksperimen sampel yang bebas.
5.      Mengolah Data Kualitas Peningkatan Kemampuan penalaran dan komunikasi matematika diperoleh dari indeks gain. Rumus untuk menentukan indeks gain menurut Meltter (Putra, 2009: 36) sebagai berikut:
Sedangkan kriteria indeks gain menurut Hake (Putra, 2009: 36) adalah sebagai berikut:
Tabel 3.5
Klasifikasi Indeks Gain

Gain
Kriteria
Tinggi
Sedang
Rendah